Saat itu, aku bagaikan Isim Mufrod, tunggal – hanya sendiri saja.
Seperti halnya kalimat huruf, sendiri tak bermakna. Laksana Fi’il
laazim, mencinta namun tak ada yang dicinta. Tak mau terpuruk dan
terdiam, aku harus jadi mubtada’, memulai sesuatu. Menjadi seorang
fa’il, yang berawal dari fi’il.
