23 November 2015

Ungkapan Cinta ala An-Nahwiyyah

Saat itu, aku bagaikan Isim Mufrod, tunggal – hanya sendiri saja. Seperti halnya kalimat huruf, sendiri tak bermakna. Laksana Fi’il laazim, mencinta namun tak ada yang dicinta. Tak mau terpuruk dan terdiam, aku harus jadi mubtada’, memulai sesuatu. Menjadi seorang fa’il, yang berawal dari fi’il.