6 Agustus 2014

KHUTBAH IEDUL FITRI

(Ust. H. Yayat Nuryaman)

اَللهُ اَكْبَرُ(٩) لَااِلَهَ اِلَااللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ. وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُللهِ الَّذِي لَااِلٰهَ اِلَّاهُوَلَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى. اَلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَلِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا. اَلَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ طِبَاقًا
اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ ذُالْجَلَالِ وَالْكِبْرِيَاءِ. وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ الرُّسُلِ وَالْاَنْبِيَاءِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍاَتْقَى الْاَتْقِيَاءِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ. صَلَاةًوَسَلَامًا دَاإِمَيْنِ اِلٰى يَوْمِ الْجَزَاءِ
اَمَّابَعْدُفَيَاعِبَادَاللهِ. اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْفَازَالْمُتَّقُوْنَ
اَعُوْذُبِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. وَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَوَلِتُكَبَّرُوااللهَ عَلٰى مَاهَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 


Sidang Ied yg berbahagia, Ramadhan baru saja meninggalkan kita. Sebagaimana kita maklumi bulan Ramdhan adalah bulan sayyidus suhur, artinya pemimpin seluruh bulan. Ramdhan adalah satu-satunya bulan yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an. Bulan Ramadhan bulan yang diwajibkan berpuasa, bulan Ramadhan disunatkan shalat tarawih. Ramadhan bulan latihan kejujuran, Ramadhan bulan latihan kesabaran, Ramadhan bulan dilipat gandakan pahala, Ramadhan bulan ditambah-tambah rizqi. Ramadhan yang awalnya Rahmat, pertengahannya ampunan, dan Terakhirnya pembebasan dari api neraka, bulan dibukakan pintu surga, dan ditutup pintu neraka, pada bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, Bulan yang paling utama untuk bershadaqah, dan bulan yang penuh berkah.
Dengan gemuruh atau dikumandangkannya takbir tahmid tahlil yang dimulai sejak kemarin terbenamnya matahari sampai saat ini, di setiap Masjid, lapangan, musholla diseluruh tanah air, menandakan sudah berakhirnya bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan latihan dan ujian keimanan seseorang, untuk mencapai kualitas taqwa.Takbir, tahmid, dan tahlil yang merupakan ungkapan kebahagiaan seorang muslim yang sudah selesai melaksanakan puasanya, mudah-mudahan menjadi pertanda akan diperolehnya kebahagiaan di akhirat ketika bertemu dengan Allah SWT sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

لِصَاءِمِ فَرْحَتَانِ
Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan, pertama ketika berbuka dan kedua ketika bertemu dengan Tuhannya untuk mendapat pahala puasanya. Tujuan puasa adalah untuk meraih taqwa, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah:183 :

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa.

Berhasil atau tidaknya puasa kita, dapat dilihat/diketahui dengan melihat tanda-tandanyaadalah “muttaqien” apakah telah kita miliki atau belum. Banyak ciri-ciri taqwa dalam Al-Qur’an yang harus kita miliki seperti infaq dikala susah, mampu menahan amarah, selalu memaafkan kesalahan orang lain, apabila berdosa cepat-cepat bertaubat, dan tidak mengulangi lagi dosa dan masih banyak tanda-tanda mulia lainnya dari pada taqwa sebagai keberhasilan puasa.
Untuk melaksanakan ibadah puasa itu, Allah memilih bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan bulan permulaanya diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril AS yang berjumlah 6666 ayat selama ±23 tahun, merupakan kitab suci terakhir kepada Nabi terakhir, dan memang pada tempatnya lah, apabila merupakan bulan umat islam melakukan ibadah saum selama sebulan penuh, sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas turunnya Al-Qur’an yang memberikan pedoman hidup sebagaimana firmannya dalam Q.S Al-Baqarah:185 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Bahwa bulan Ramadhan itu telah diturunkan Al-Qur’an dan memberi petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan dari petunjuk-petunjuk itu serta membedakan hak dan batil.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Pada Dasarnya merupakan hal yang tidak mudah untuk menamatkan puasa satu bulan, ini seperti tidak mudah pula untuk memelihara puasa agar betul-betul, bukan hanya menahan lapar dan haus belaka, tidak mudah melaksanakan puasa yang sesua janji la’alakum tattaqun dan janji Rasul yang menyatakan, manshoma romadhonan imanan wahtisaban gofirallahu matakosdama mindzanbihi (H.R Bukhari), berkurang nilai sepiritualnya. Walau demikian, kita sudah dapat menyelesaikannya dan sudah berusaha dengan sekuat tenaga agar puasa tersebut tidak terganggu keutamaanya, dan harapan kita puasa yang telah kita laksanakan selam sebulan penuh dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang muttaqin dan kalau itu kita raih, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia

Ibadah puasa yang Allah syariatkan kepada kaum muslimin mengandung hikmah bagi pembinaan kepribadian dan kemaslahatan umat manusia, baik untuk membina kesucian dan kesehatan rohani, maupun kehidupan masyarakat. Alqur’an menegaskan, bahwa tujuan puasa adalah untuk menjaga agar seseorang berjiwa taqwa, Taqwa berarti menjaga diri jangan sampai sengsara, menjaga diri dengan taat menjalankan perintah Allah, menjaga diri menjauhi larangan-larangan Allah, orang akan taat jika jiwanya kuat karena perintah Allah, pada umunya tidak disenangi hawa nafsu dan puasapun menahan diri dari hawa nafsu, dan puasapun melatih jiwa supaya bersabar dan selalu patuh pada aturan.

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia

Hal lain yang dilatihkan dalam puasa adalah perasaan selalu ada dalam pengawasan Allah, tidak ada satu perbuatanpun bagaimanapun tersembunyinya ia dari penglihatan manusia, tidak akan luput dari penglihatan Allah. Dengan demikian orang yang berpuasa melatih diri untuk ihsan dalam ibadah, yaitu selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Dengan itu akan membuahkan sikap jujur dan tanggung jawab pribadi yang besar. Sikap jujur dan bertanggung jawab amat diperlukan dalam hidup bersama, bahwa dalam kehidupan pribadi sehari-hari, karena sikap jujur dan tanggung jawab akan menjauhkan kebohongan khianat, baik terhadap diri sendiri, terhadapa sesama manusia, terhadap bangsa dan negara, terlebih terhadap Allah SWT.

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia

Puasa dapat menumbuhkan rasa syukur atas ni’mat Allah, orang yang selalu kenyang, tidak akan merasakan bahwa memperoleh rizki yang cukup adalah berasal dari ni’mat pemberian Allah, dengan diperintahkan merasa lapar pada siang hari di bulan Ramadhan, orang akan dapat merasakan adanya ni’mat Allah. Orang yang puasa mengetahui benar nilai makan dan minum, kenyang dan lapar, sebab selama menjalani puasa ia dapat merasakan betapa payahnya lapar dan haus itu.
Nabi Muhammad SAW menyatakan, bahwa Allah pernah menawarkan kepadanya untuk diberi emas sepenuh dataran rendah Mekah yang oleh Nabi Muhammad SAW dijawab :
Tidak Ya Allah, aku lebih mengutamakan kenyang sehari dan lapar sehari, apabila merasa lapar maka aku akan memohon dan ingat kepada Engkau, dan apabila merasa kenyang, maka aku akan bersyukur dan memuji Engkau”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia

Orang yang merasa lapar pada waktu menjalani puasa akan terketuk hati dan ingatannya pada fakir miskin. Dalam suatu riwayat, ketika Nabi Yusuf diberi kekuasaan atas gudang makanan di Mesir ia banyak berpuasa, pada waktu itu ia ditanya mengapa ia puasa ? padahal kekuasaan perbendaharaan dan gudang bahan makan berada ditangannya, ia menjawab : “Apabila saya selalu kenyang, saya takut lupa pada perasaan lapar yang diderita orang-orang fakir”, dengan demikian diharapkan orang yang puasa itu memikirkan nasib orang fakir dan miskin, karena dalam ibadah puasa itu dapat merasakan penderitaan kelaparan. Padahal ia hanya siang hari saja tidak makan, sedangkan orang fakir dan miskin, sepanjang waktu mereka sulit untuk mendapatkan makanan. Karena itu sehabis melaksanakan ibadah puasa, Allah mewajibkan zakat fitrah. Maka dengan ibadah puasa dan zakat fitrah ini, akan terjadi keakraban antara orang kaya dan orang miskin, sabda Rasulullah SAW:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya sendiri”. (H.R Muslim).Dan sabdanya pula :

لَيْسَى مِنَّامَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَاوَلَيْسَ مِنَّامَنْ لَمْ يُوَّقِرْكَبِيْرَنَا
Bukanlah Umat kami, orang kaya yang tidak menaruh kasih sayang pada orang miskin, dan bukanlah umat kami, orang miskin yang tidak hormat kepada yang kaya”.

Dengan demikian, ibadah puasa dapat menjadikan seseorang bersedia membantu penderitaan orang lain, yang selalu ada ditengah-tengah masyarakat. Maka terciptanya kehidupan yang penuh dengan kegotong royongan, sehingga terwujud masyarakat yang penuh kasih sayang.
Dengan adanya Idul Fitri, semoga bangsa Indonesia kembali lagi kepada jati dirinya, selaku bangsa yang terkenal sopan santun, ramah, rendah hati, lemah lembut, jauh dari pada sifat-sifat brutal, kasar, arogan, dan sifat-sifat lainnya yang tak pantas dilakukan oleh suatu bangsa yang beragama. Jauh dari perpecahan dan permusuhan. Mari kita kembali kepada suatu bangsa yang bersatu, menuju masyarakat mandiri-madani yang penuh rahmat dan magfirah Allah SWT.
Pada hari Idul Fitri ini, mari kita jadikan awal kebaikan kita dalam berinteraksi sosial. Karena hikmah lain dari pada puasa adalah : membersihkan pikiran, menerangi akal, melembutkan hati, mengendalikan hawa nafsu, dan mendidik kasih sayang kepada orang lain. Saum jga sebagai pemutus maksiat dan menyehatkan jasmani dan rahani, untuk mendorong kita kembali menjadi manusia yang berAkhlaq dan berMoral.

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia

Itulah sebagian dari hikmah puasa, yaitu sebagai latihan kesabaran, ketaatan, disiplin, dan selalu bersyukur atas karunia dan ni’mat Allah SWT.
Hari ini kita berada dalam suasana lebaran, Insya Allah segala dosa kita kepada Allah, telah tercuci bersih dengan ibadah yang kita laksanakan selama bulan Ramadhan sesuai dengan janji Rasulullah SAW, sehingga keadaan kita benar-benar seperti yang dilukiskan Allah dalam Firman-Nya :
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ - وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ  
Sungguh bahagia orang yang telah mensucikan jiwanya (Dengan ibadah puasa dan Zakat) kemudian mengagungkan asma Tuhannya (dengan Takbir, Tahmid, dan Tahlil), lalu ia melaksanakan shalat (Idul Fitri).”
Puasa telah kita laksanakan, tinggal hal yang menyangkut dengan hak A’dami, yaitu hak sesama manusia, karena itu pada hari yang berbahagia ini, marilah saling memaafkan sesama kita, agar pada hari ini kita benar-benar terbebas dari beban dosa, baik terhadap Allah, maupun terhadap sesama, sehingga keadaan kita saat ini benar-benar seperti bayi yang baru dilahirkan.
Kemudia mari kita ciptakan kehidupan yang baik, rukun, hidup penuh dengan kedamaia, didalam ampunan Allah SWT.
Kita pertahankan sikap yang baik yang dihasilkan ibadah puasa. Dan kita selalu waspada terhadap tipu daya iblis, godaan syaitan yang senantiasa berusaha merusak kerukunan hidup kita sesama umat manusia, terutama diantara kita sesama umat islam. Iblis musuh manusia, tidak berbadan kasar seperti kita, ia berbentuk jenis halus, dan itulah sebabnya ia dapat mengalir didalam tubuh kita sebagaimana diperingatkan Rasulullah SAW :

اِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنْ اِبْنِ اٰدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
Sesungguhnya setan(iblis) itu mengalir dalam tubuh manusia mengikuti peredaran darahnya”. (H.R Bukhari Muslim)

Dengan segala cara iblis datang menipu manusia

فَجَاءَاِبْلِيْسُ بِأَعْلَامٍ
Maka datanglah iblis mendekati manusia dengan membawa panji-panji kepalsuan, lalu dipancangkan disebelah sifat utama”.

فَجَاءَبِالْحَسَدِفَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعِلْمِ
Terkadang dia datang dengan mengibarkan panji hasad (dengki) lalu dipancangkannya disamping ilmu”.

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia

Dengan cara inilah iblis atau setan sering kali berhasil usahanya menyesatkan manusia :
Para ulama tidak lagi menyiarkan agama untuk menerangi jalan hidup umat manusia. Tapi mereka asik memamerkan ilmu mereka, didorong oleh sifat hasad dan dengki antara sesama ulama atau dirangsang oleh nafsu serakah, mengumpulkan harta kekayaan, pangkat dan kedudukan.
Para pemimpin akan bertindak sewenang-wenang menyalah gunakan kekuasaan. Sehingga kaum duafa (kaum lemah) merasa terancam kehidupannya. Hak asasi dilanggar dengan cara diluar batas-batas kemanusiaan.
Para pengusaha sibuk mengumpulkan harta kekayaan dengan sangat rakusnya dan tidak memperhatikan lagi haramnya. Kepentingan rakyat tidak lagi mereka pedulikan malah bila perlu mereka korbankan.
Rakyat jelata pun tidak lagi terikat oleh norma-norma agama atau norma-norma susila. Mereka berbuat sesuka hati, mencuri, merampok, membunuh, memperkosa, dan sebagainya.
Dan akhirnya para karyawan dengan kepalsuannya menyebabkan citra pengusaha sehingga kehilangan wibawanya.
Apabila suatu bangsa dalam keadaan demikian itu masih berhasil membangun fisik, membangun lahiriyah, maka hasilnya tidaklah akan lebih dari pada sebuah kuburan yang diatasnya berdiri suatu bangunan megah, tetapi didalamnya terdapat sisa-sisa tubuh manusia yang sudah membusuk.
Bukanlah suatu bangsa itu dinilai menurut akhlaknya, kesucian rohaninya. Bukan hanya lahiriyah saja seorang pujangga muslim Syauqi Bey berkata :

Yang dinamakan umat adalah akhlaq, selama akhlaqnya itu masih ada! Apabila akhlaq tersebut sudah tiada maka umat itu hilang dan punah!

Setelah kita menginsafi betapa lemahnya kita sebagai manusia apabila berhadapan dengan bujukan dan tipu daya setan, maka terasalah, alangkah bijaksananya Allah. Yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai latihan bagi umat mu’minin.

Ibadah puasa memberikan kepada kita suatu pengertian, bahwa dengan cita-cita yang tak kunjung padam, dengan usaha dan perjuangan yang tak kenal lelah. Dengan jalan menjauhkan diri dari tiap-tiap perbuatan maksiat, kita akan dapat mengharapkan cinta Allah terhadap diri kita, dan hanya dengan cinta Allah itu, kita dapat mempertahankan diri dari godaan setan. Sebagaimana Firman Allah dalam hadits Qudsy :

وَإِذَاأَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعُهُ اَلَّذِىْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَةُالَّذِيُبْصِرُبِهِ وَلِسَانَهُ
 الَّذِىْ يَنْطِقُ بِهِ.وَقَلْبَهُ الَّذِىْ يُعْقِلُ بِهِ.فَاِذَادَعَانِى اَجْبَبْتُهُ
 وَإِذَاسَأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ. وَإِنِ اءَتَنْصَرَنَصَرْتُهُ

Apabila aku telah mencitai hamba ku, maka Akulah yang akan menjadi telinganya, dengan telinga itu ia mendengar. Aku akan menjadi matanya, dengan mata itu ia melihat. Aku akan menjadi lidahnya, dengan lidah itu ia bertutur kata. Aku akan menjadi Kalbunya, dengan kalbu itu aku berfikir. Apabila ia berdo’a kepadaku niscaya aku akan mengaruniainya (mengalbukannya) dan apabila ia meminta pertolongan kepada-Ku, niscaya Aku akan menolongnya.” H.R. Thabrani

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia

Disinilah letaknya rahasia ibdah puasa dan inilah yang merupakan keagungan bulan Ramadhan. Hanya satu harapan kita, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang dicintainya melalui ibadah puasa yang telah kita tunaikan pada bulan Ramadhan yang baru berlalu.
Dan semoga ini akan berlanjut selama hayat masih dikandung badan!
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil-hamdu!

تَقَبَّلَ للهُ مِنِّٕى وَ مِنْكُمْ تَقَبَّلَ يَاكَرِيْمُ. وَغَفَرَلِى وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
وَاَسْكَنَنِى وَاِيَّاكُمْ فِى جَنَّةِالنَّعِيْمِ. وَالْحَمْدُللهِ رَبِّٕ الْعَالَمِيْنَ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar