(Ust. H. Yayat Nuryaman)
اَلْحَمْدُللهِ الَّذِي لَااِلٰهَ اِلَّاهُوَلَهُ
الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى. اَلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَلِيَبْلُوَكُمْ
اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا. اَلَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ طِبَاقًا
اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ
لَهُ ذُالْجَلَالِ وَالْكِبْرِيَاءِ. وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ الرُّسُلِ وَالْاَنْبِيَاءِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍاَتْقَى
الْاَتْقِيَاءِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ.
صَلَاةًوَسَلَامًا دَاإِمَيْنِ اِلٰى يَوْمِ الْجَزَاءِ
اَمَّابَعْدُفَيَاعِبَادَاللهِ. اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْفَازَالْمُتَّقُوْنَ
اَعُوْذُبِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
وَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَوَلِتُكَبَّرُوااللهَ عَلٰى مَاهَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُوْنَ
Sidang Ied yg berbahagia, Ramadhan baru saja meninggalkan kita. Sebagaimana kita maklumi bulan Ramdhan adalah bulan sayyidus suhur, artinya pemimpin seluruh bulan. Ramdhan adalah satu-satunya bulan yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an. Bulan Ramadhan bulan yang diwajibkan berpuasa, bulan Ramadhan disunatkan shalat tarawih. Ramadhan bulan latihan kejujuran, Ramadhan bulan latihan kesabaran, Ramadhan bulan dilipat gandakan pahala, Ramadhan bulan ditambah-tambah rizqi. Ramadhan yang awalnya Rahmat, pertengahannya ampunan, dan Terakhirnya pembebasan dari api neraka, bulan dibukakan pintu surga, dan ditutup pintu neraka, pada bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, Bulan yang paling utama untuk bershadaqah, dan bulan yang penuh berkah.
Dengan gemuruh atau dikumandangkannya takbir tahmid tahlil yang
dimulai sejak kemarin terbenamnya matahari sampai saat ini, di setiap Masjid,
lapangan, musholla diseluruh tanah air, menandakan sudah berakhirnya bulan suci
Ramadhan yang merupakan bulan latihan dan ujian keimanan seseorang, untuk
mencapai kualitas taqwa.Takbir, tahmid, dan tahlil yang merupakan ungkapan
kebahagiaan seorang muslim yang sudah selesai melaksanakan puasanya,
mudah-mudahan menjadi pertanda akan diperolehnya kebahagiaan di akhirat ketika
bertemu dengan Allah SWT sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
لِصَاءِمِ فَرْحَتَانِ
Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan, pertama
ketika berbuka dan kedua ketika bertemu dengan Tuhannya untuk mendapat pahala
puasanya. Tujuan puasa adalah untuk meraih taqwa, sebagaimana firman Allah
dalam Q.S. Al-Baqarah:183 :
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
“Hai orang-orang yang beriman, telah
diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang
sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa.”
Berhasil
atau tidaknya puasa kita, dapat dilihat/diketahui dengan melihat tanda-tandanyaadalah
“muttaqien” apakah telah kita miliki atau belum. Banyak ciri-ciri taqwa
dalam Al-Qur’an yang harus kita miliki seperti infaq dikala susah, mampu
menahan amarah, selalu memaafkan kesalahan orang lain, apabila berdosa
cepat-cepat bertaubat, dan tidak mengulangi lagi dosa dan masih banyak
tanda-tanda mulia lainnya dari pada taqwa sebagai keberhasilan puasa.
Untuk
melaksanakan ibadah puasa itu, Allah memilih bulan Ramadhan, karena bulan
Ramadhan bulan permulaanya diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW
dengan perantara malaikat Jibril AS yang berjumlah 6666 ayat selama ±23 tahun, merupakan
kitab suci terakhir kepada Nabi terakhir, dan memang pada tempatnya lah,
apabila merupakan bulan umat islam melakukan ibadah saum selama sebulan penuh,
sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas turunnya Al-Qur’an yang memberikan pedoman
hidup sebagaimana firmannya dalam Q.S Al-Baqarah:185 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Bahwa bulan Ramadhan itu telah diturunkan Al-Qur’an dan memberi
petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan dari petunjuk-petunjuk itu serta
membedakan hak dan batil.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Pada Dasarnya merupakan hal yang tidak mudah untuk menamatkan puasa
satu bulan, ini seperti tidak mudah pula untuk memelihara puasa agar
betul-betul, bukan hanya menahan lapar dan haus belaka, tidak mudah
melaksanakan puasa yang sesua janji la’alakum tattaqun dan janji Rasul
yang menyatakan, manshoma romadhonan imanan wahtisaban gofirallahu
matakosdama mindzanbihi (H.R Bukhari), berkurang nilai sepiritualnya. Walau
demikian, kita sudah dapat menyelesaikannya dan sudah berusaha dengan sekuat
tenaga agar puasa tersebut tidak terganggu keutamaanya, dan harapan kita puasa
yang telah kita laksanakan selam sebulan penuh dapat meningkatkan kualitas
sumber daya manusia yang muttaqin dan kalau itu kita raih, kita akan
mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Ibadah puasa yang Allah syariatkan kepada kaum muslimin mengandung
hikmah bagi pembinaan kepribadian dan kemaslahatan umat manusia, baik untuk
membina kesucian dan kesehatan rohani, maupun kehidupan masyarakat. Alqur’an
menegaskan, bahwa tujuan puasa adalah untuk menjaga agar seseorang berjiwa
taqwa, Taqwa berarti menjaga diri jangan sampai sengsara, menjaga diri dengan
taat menjalankan perintah Allah, menjaga diri menjauhi larangan-larangan Allah,
orang akan taat jika jiwanya kuat karena perintah Allah, pada umunya tidak
disenangi hawa nafsu dan puasapun menahan diri dari hawa nafsu, dan puasapun
melatih jiwa supaya bersabar dan selalu patuh pada aturan.
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Hal lain yang dilatihkan dalam puasa adalah perasaan selalu ada dalam
pengawasan Allah, tidak ada satu perbuatanpun bagaimanapun tersembunyinya ia
dari penglihatan manusia, tidak akan luput dari penglihatan Allah. Dengan
demikian orang yang berpuasa melatih diri untuk ihsan dalam ibadah, yaitu
selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Dengan itu akan membuahkan
sikap jujur dan tanggung jawab pribadi yang besar. Sikap jujur dan bertanggung
jawab amat diperlukan dalam hidup bersama, bahwa dalam kehidupan pribadi
sehari-hari, karena sikap jujur dan tanggung jawab akan menjauhkan kebohongan
khianat, baik terhadap diri sendiri, terhadapa sesama manusia, terhadap bangsa
dan negara, terlebih terhadap Allah SWT.
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Puasa dapat menumbuhkan rasa syukur atas ni’mat Allah, orang yang
selalu kenyang, tidak akan merasakan bahwa memperoleh rizki yang cukup adalah
berasal dari ni’mat pemberian Allah, dengan diperintahkan merasa lapar pada
siang hari di bulan Ramadhan, orang akan dapat merasakan adanya ni’mat Allah.
Orang yang puasa mengetahui benar nilai makan dan minum, kenyang dan lapar,
sebab selama menjalani puasa ia dapat merasakan betapa payahnya lapar dan haus
itu.
Nabi
Muhammad SAW menyatakan, bahwa Allah pernah menawarkan kepadanya untuk diberi
emas sepenuh dataran rendah Mekah yang oleh Nabi Muhammad SAW dijawab :
“Tidak
Ya Allah, aku lebih mengutamakan kenyang sehari dan lapar sehari, apabila
merasa lapar maka aku akan memohon dan ingat kepada Engkau, dan apabila merasa
kenyang, maka aku akan bersyukur dan memuji Engkau”.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Orang yang merasa lapar pada waktu menjalani puasa akan terketuk
hati dan ingatannya pada fakir miskin. Dalam suatu riwayat, ketika Nabi Yusuf
diberi kekuasaan atas gudang makanan di Mesir ia banyak berpuasa, pada waktu
itu ia ditanya mengapa ia puasa ? padahal kekuasaan perbendaharaan dan gudang
bahan makan berada ditangannya, ia menjawab : “Apabila saya selalu kenyang,
saya takut lupa pada perasaan lapar yang diderita orang-orang fakir”, dengan
demikian diharapkan orang yang puasa itu memikirkan nasib orang fakir dan
miskin, karena dalam ibadah puasa itu dapat merasakan penderitaan kelaparan.
Padahal ia hanya siang hari saja tidak makan, sedangkan orang fakir dan miskin,
sepanjang waktu mereka sulit untuk mendapatkan makanan. Karena itu sehabis
melaksanakan ibadah puasa, Allah mewajibkan zakat fitrah. Maka dengan ibadah
puasa dan zakat fitrah ini, akan terjadi keakraban antara orang kaya dan orang
miskin, sabda Rasulullah SAW:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ
“Tidaklah
sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya,
seperti mencintai dirinya sendiri”. (H.R Muslim).Dan sabdanya pula :
لَيْسَى مِنَّامَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَاوَلَيْسَ مِنَّامَنْ
لَمْ يُوَّقِرْكَبِيْرَنَا
“Bukanlah
Umat kami, orang kaya yang tidak menaruh kasih sayang pada orang miskin, dan
bukanlah umat kami, orang miskin yang tidak hormat kepada yang kaya”.
Dengan
demikian, ibadah puasa dapat menjadikan seseorang bersedia membantu penderitaan
orang lain, yang selalu ada ditengah-tengah masyarakat. Maka terciptanya
kehidupan yang penuh dengan kegotong royongan, sehingga terwujud masyarakat
yang penuh kasih sayang.
Dengan
adanya Idul Fitri, semoga bangsa Indonesia kembali lagi kepada jati dirinya,
selaku bangsa yang terkenal sopan santun, ramah, rendah hati, lemah lembut,
jauh dari pada sifat-sifat brutal, kasar, arogan, dan sifat-sifat lainnya yang
tak pantas dilakukan oleh suatu bangsa yang beragama. Jauh dari perpecahan dan
permusuhan. Mari kita kembali kepada suatu bangsa yang bersatu, menuju
masyarakat mandiri-madani yang penuh rahmat dan magfirah Allah SWT.
Pada
hari Idul Fitri ini, mari kita jadikan awal kebaikan kita dalam berinteraksi sosial.
Karena hikmah lain dari pada puasa adalah : membersihkan pikiran, menerangi
akal, melembutkan hati, mengendalikan hawa nafsu, dan mendidik kasih sayang
kepada orang lain. Saum jga sebagai pemutus maksiat dan menyehatkan jasmani dan
rahani, untuk mendorong kita kembali menjadi manusia yang berAkhlaq dan
berMoral.
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Itulah sebagian dari hikmah puasa, yaitu sebagai latihan kesabaran,
ketaatan, disiplin, dan selalu bersyukur atas karunia dan ni’mat Allah SWT.
Hari
ini kita berada dalam suasana lebaran, Insya Allah segala dosa kita kepada
Allah, telah tercuci bersih dengan ibadah yang kita laksanakan selama bulan
Ramadhan sesuai dengan janji Rasulullah SAW, sehingga keadaan kita benar-benar
seperti yang dilukiskan Allah dalam Firman-Nya :
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ - وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ
“Sungguh bahagia orang yang telah
mensucikan jiwanya (Dengan ibadah puasa dan Zakat) kemudian mengagungkan asma
Tuhannya (dengan Takbir, Tahmid, dan Tahlil), lalu ia melaksanakan shalat (Idul
Fitri).”
Puasa
telah kita laksanakan, tinggal hal yang menyangkut dengan hak A’dami, yaitu hak
sesama manusia, karena itu pada hari yang berbahagia ini, marilah saling
memaafkan sesama kita, agar pada hari ini kita benar-benar terbebas dari beban
dosa, baik terhadap Allah, maupun terhadap sesama, sehingga keadaan kita saat
ini benar-benar seperti bayi yang baru dilahirkan.
Kemudia
mari kita ciptakan kehidupan yang baik, rukun, hidup penuh dengan kedamaia,
didalam ampunan Allah SWT.
Kita
pertahankan sikap yang baik yang dihasilkan ibadah puasa. Dan kita selalu
waspada terhadap tipu daya iblis, godaan syaitan yang senantiasa berusaha
merusak kerukunan hidup kita sesama umat manusia, terutama diantara kita sesama
umat islam. Iblis musuh manusia, tidak berbadan kasar seperti kita, ia
berbentuk jenis halus, dan itulah sebabnya ia dapat mengalir didalam tubuh kita
sebagaimana diperingatkan Rasulullah SAW :
اِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنْ اِبْنِ اٰدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya
setan(iblis) itu mengalir dalam tubuh manusia mengikuti peredaran darahnya”.
(H.R Bukhari Muslim)
Dengan segala cara iblis datang menipu manusia
فَجَاءَاِبْلِيْسُ بِأَعْلَامٍ
“Maka
datanglah iblis mendekati manusia dengan membawa panji-panji kepalsuan, lalu
dipancangkan disebelah sifat utama”.
فَجَاءَبِالْحَسَدِفَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعِلْمِ
“Terkadang
dia datang dengan mengibarkan panji hasad (dengki) lalu dipancangkannya
disamping ilmu”.
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Dengan cara inilah iblis atau setan sering kali berhasil usahanya
menyesatkan manusia :
Para
ulama tidak lagi menyiarkan agama untuk menerangi jalan hidup umat manusia.
Tapi mereka asik memamerkan ilmu mereka, didorong oleh sifat hasad dan dengki
antara sesama ulama atau dirangsang oleh nafsu serakah, mengumpulkan harta
kekayaan, pangkat dan kedudukan.
Para
pemimpin akan bertindak sewenang-wenang menyalah gunakan kekuasaan. Sehingga
kaum duafa (kaum lemah) merasa terancam kehidupannya. Hak asasi dilanggar
dengan cara diluar batas-batas kemanusiaan.
Para
pengusaha sibuk mengumpulkan harta kekayaan dengan sangat rakusnya dan tidak
memperhatikan lagi haramnya. Kepentingan rakyat tidak lagi mereka pedulikan
malah bila perlu mereka korbankan.
Rakyat
jelata pun tidak lagi terikat oleh norma-norma agama atau norma-norma susila.
Mereka berbuat sesuka hati, mencuri, merampok, membunuh, memperkosa, dan
sebagainya.
Dan
akhirnya para karyawan dengan kepalsuannya menyebabkan citra pengusaha sehingga
kehilangan wibawanya.
Apabila suatu bangsa dalam keadaan demikian itu masih berhasil
membangun fisik, membangun lahiriyah, maka hasilnya tidaklah akan lebih dari
pada sebuah kuburan yang diatasnya berdiri suatu bangunan megah, tetapi
didalamnya terdapat sisa-sisa tubuh manusia yang sudah membusuk.
Bukanlah
suatu bangsa itu dinilai menurut akhlaknya, kesucian rohaninya. Bukan hanya
lahiriyah saja seorang pujangga muslim Syauqi Bey berkata :
“Yang
dinamakan umat adalah akhlaq, selama akhlaqnya itu masih ada! Apabila akhlaq
tersebut sudah tiada maka umat itu hilang dan punah!”
Setelah
kita menginsafi betapa lemahnya kita sebagai manusia apabila berhadapan dengan
bujukan dan tipu daya setan, maka terasalah, alangkah bijaksananya Allah. Yang
telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai latihan bagi umat mu’minin.
Ibadah
puasa memberikan kepada kita suatu pengertian, bahwa dengan cita-cita yang tak
kunjung padam, dengan usaha dan perjuangan yang tak kenal lelah. Dengan jalan
menjauhkan diri dari tiap-tiap perbuatan maksiat, kita akan dapat mengharapkan
cinta Allah terhadap diri kita, dan hanya dengan cinta Allah itu, kita dapat
mempertahankan diri dari godaan setan. Sebagaimana Firman Allah dalam hadits
Qudsy :
وَإِذَاأَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعُهُ اَلَّذِىْ يَسْمَعُ بِهِ
وَبَصَرَةُالَّذِيُبْصِرُبِهِ وَلِسَانَهُ
الَّذِىْ يَنْطِقُ بِهِ.وَقَلْبَهُ الَّذِىْ
يُعْقِلُ بِهِ.فَاِذَادَعَانِى اَجْبَبْتُهُ
وَإِذَاسَأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ. وَإِنِ
اءَتَنْصَرَنَصَرْتُهُ
“Apabila
aku telah mencitai hamba ku, maka Akulah yang akan menjadi telinganya, dengan
telinga itu ia mendengar. Aku akan menjadi matanya, dengan mata itu ia melihat.
Aku akan menjadi lidahnya, dengan lidah itu ia bertutur kata. Aku akan menjadi
Kalbunya, dengan kalbu itu aku berfikir. Apabila ia berdo’a kepadaku niscaya
aku akan mengaruniainya (mengalbukannya) dan apabila ia meminta pertolongan
kepada-Ku, niscaya Aku akan menolongnya.” H.R. Thabrani
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Disinilah letaknya rahasia ibdah puasa dan inilah yang merupakan
keagungan bulan Ramadhan. Hanya satu harapan kita, semoga kita termasuk
hamba-hamba Allah yang dicintainya melalui ibadah puasa yang telah kita
tunaikan pada bulan Ramadhan yang baru berlalu.
Dan
semoga ini akan berlanjut selama hayat masih dikandung badan!
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Walillahil-hamdu!
تَقَبَّلَ للهُ مِنِّٕى وَ مِنْكُمْ تَقَبَّلَ يَاكَرِيْمُ.
وَغَفَرَلِى وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
وَاَسْكَنَنِى وَاِيَّاكُمْ فِى جَنَّةِالنَّعِيْمِ. وَالْحَمْدُللهِ
رَبِّٕ الْعَالَمِيْنَ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar