9 Desember 2015

cerpen: jangan percaya pada angin

sangat berisik suasana kelas amburadul berantakan, murid-murid ada yang ngobrol, kucing kucingan, ada yang tidur, aah pokonya kacau, aku jenuh dengan suasana ini. Angin pun bertiup dari jendela tepat disamping aku duduk sekarang ini, haa sangat sejuk rasanya, lembut angin ini membelai belai pikiranku, perasaan ini takan ku dapat dengan kipas angin, atau buku yang ku kipas-kipaskan, aku sadar angin telah memanggilku ingin aku merasakannya selalu,
seketika terbayang dalam benak ku, aku harus pergi dari sini apapun caranya, setelah ku bereskan semua buku yang berserakan di meja aku pun memasukanya kedalam tasku dan menguncinya rapat-rapat, aku pun punya etika saat aku pulang, aku simpan tas ku sendirian dimeja, lalu kurapikan baju dan turun melewati tangga menuju kantor TU(Tata Usaha), tujuannya untuk melatih kemampuan argumen dan rasionalisasi ku agar mendapat izin pulang bagaimana pun caranya ok, akupun telah sampai di depan pintu TU dan seketika itu juga kepalaku langsung terasa pusing, kakiku gmetar, akupun mendadak flu dan batuk, rasanya untuk berucap saja sulit apalagi bergerak, akupun duduk dan disambut oleh ibu-ibu gendut penjaga TU yang sedari tadi memperhatikanku dari kaca mata bulatnya,..Ribut sekali suasana kelas tanpa guru, bangku meja
"ada perlu apa kemarii ?"
"saya mau ijin beli ohook ohook (batuk) obat ke ke apotik buu" 
"waah kamu sedang sakit yaa nak, kamu sudah sarapan?"
"sudaah buu" sahun ku pelan
"dengan apa ko kaya yang lemas gitu"
"dengan sisa roti yang aku bagikan kepada adik-adiku saya dirumah buu"
"apa ayah mu tidak bekerja?"
"ayah bekerja serabutan namun, tapi ayah sudah lama sakit"
"hmm malang sekali kau nak, lalu ibu mu bagaimana?"
"ibuu. ibu.. " aku pun terisak seolah menahan sesuatu yang akan keluar dari mataku, suasana hening
"oohh eeh ga usah dijawab ibuu mengerti yang sabar yaa nak" aku mengangguk dengan sangat berat, 
"tunggu sebentar yaa nak" ibu itupun keluar dari kantor entah kemana
 tak lama kemudian diapun akhirnya datang sambil membawa keresek besar berlogo alfamart yang isinya penuh dengan makanan, dan satunya lagi kresek hitam yang baunya seperti bubur mas bejo di depan gerbang, yaa itu memang bubr kesukaan ku aromanya dari rempah-rempahnya sangan mantap, dagingnya banyak lembut dan membuat orang yang membayangkannya ngiler, dia pun meletakan dua keresek makanan dan bubur itu tepat di meja depan ku.
"nak.. ibu sangat prihatin sekali dengan keadaan mu, ayah mu, ibu pun mengerti apa yang kau rasakan, sekarang ebih baik kau pulang dan istirahat saja dirumah ya nak, tunggu yaa" ibu baik hati itu langsung beranjak dari duduknya dan membuatkan aku surat ini, yees ini namanya sekali mendayung dua pulau terlewati,
"ini surat izin untuk mu, sekang cepat pulang semoga ayah mu cepat sembuh"  sambil menyerahkan kertas kecil bertuliskan izin kepadaku
"ayoo tunggu apalagi cepat pulang sana" tanpa ekspresi akupun langsung keluar "gilee brengsek luu sialan lu satpam TU gendut kirain yu makanan mau dikasiin kegua, dasar pemberi harapan palsu, dasar lu PHP kampreet " jengkel sekali rasanya.
ooh iya gua baru inget di cerita ini gua kan orangnya bijak, ehhmm ehmmm."biarpun harapan palsu berlalu, yang penting surat izin di saku" Mission Succes..
 akun pun naik kembali kekelas, dengan kemenangan dan rasa bangga ku lemparkan surat bertuliskan izin itu ke meja guru dan ku gendong tasku sebelah tangan kumasukan tangan kiriku ke saku, dan berjalan dengan kepala tegak disertai sorak sorai teman-teman yang kagum kepadaku karena telah berhasil mengalah kan satpam gendut TU itu, lingkungan ku berubah menjadi slow motion, dan danmereka semu mengantarkanku dengan ramai sampai ke luar gerbang, sesekali aku melambaikan tangan pada mereka dan membenarkan posisi jam tangan yang mati, yang kupinjam dari temanku, aku pun memberikan senyuman terakhir pada mereka dan merekapun memanggil-manggil namaku dengan girang, dan yang paling keras memanggil namaku ya orang yang punya jam ini, sambil berlari dari kerumunan dia mengejarku, akupun lari terbirit-birit dan langsung memegat angkot.. fiiuh akhirnya aku telah bebas dari penjara ituu, haa akupun tenang, meski aku seangkot dengan ibu-ibu yang pulang dari pasar, 20 menit aku bertahan bersama mereka akhirnya akuturun di serang desa, akupun lang menyebrang, dan merasakan angin ini lagi haa sangat sejuk nyaman tentram, akan ku ikuti kemana angin ini pergi, rasanya sangat nyaman haa aku bentangkan tangan ku dan merasakan angin yang menerpaku haa,.. lalu telingaku di jewer
"aww aww aw sakit sakit"
"heh ngapain kamu!!, sekarang sudah masuk waktu pelajaran saya kamu malah senyum-senyum sendiri pake ngebentangin tangan ini apa apaan ini, bilang aah aah lagi ooh ngebayangin film titanik yaa !! astagfirullah pustup 100!!! " sambil pustup aku melihat angin tertawa di balik jendela dan terbang, dia berhasil mengerjaiku, "jangan percaya pada angin, jangan mau angin membawa terbang fikiranmu"..

kurnia mardhika
kediri 09 desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar