Sore ini hujan turun, di kotaku, Bandung. kota yang melahirkan seniman dari janin kedamaian keramahan dan ke sejukan kota ini.. derasnya hujan tak menghalangi penjual rotibakar berdagang di pinggir jalan, anak-anak kecil itu bahkan terlihat lebih asyik bermain bola saat hujan, meski ada beberapa orang yang lalu lalang disisi jalan, yaa ujan ini memang berkah..
Sudah cukup aku mengamati mereka dari jendela, kuas yang sedari tadi kupegang ku letakan di atas meja, ku ambil mantel dan bergegas keluar, hari ini aku harus segera bersiap, pukul lima sore ada pameran seni di gedung balai kota, aku tak boleh melewatkannya, masih ada satu jam lagi sebelum acara di mulai, aku harus pergi sebelum ibu tahu,.
Pelaan sekali pintu ku buka,..
"cayha.. kamu mau kemana nak?" teriak ibu dari dapur., aduh ketahuan
"mau ke balai kota buu.." jawab ku dari pintu depan
"emang ada apa disana, mau pergi sama sipa"
"ada pa.. pasar buku bu, sendiri saja" fuuhh.. hampir saja keceplosaan.
"kemana??" jawab ibu dengan volume yg lebih tinggi
"ke pasar buku buu"
"awas jangan sampai ke pameran seni, ibu ga mau kamu dimarahin lagi sama ayag gara-gara kepameran"
"ayah kan masih di luar kota buu"
"iya, tapi kau tahukan gmana marahnuya ayah"
"iya tahu bu, daah ibuu" sahut ku sambil bergegas keluar,..
ku menyusuri genangan air di bawah rintikan hujan, suasana seperti ini biasanya kulalui bersama ayah, namun sudah 3 bulan ayah meninggalkan kota ini karena urusan pekerjaan, aku masih ingan dulu ketika aku di jewer karena hujan-hujan bersama kaka, atau ketika menumpahkan cat lukis ke dalam genangn air, agar airnya berwarna warni haha, dulu ayah memang pelukis yang sangat hebat, media apapun bisa ia pakai untuk melukis, bahkan sambil memejhamkan mata, atau kanvasnya dibalik sekalipun dia masih dapat membuat lukisan wajah seorng wanita cantik, akupun masih ingat ketika ayah mengahari kaka melukis, dan setiap ada lukisan kaka yg salah maka ayah mencoreng muka kaka, aku hanya tertawa melihat muka kaka yang seperti eskrim itu,.. tidak heran bakat itu diwarisi oleh anak-anakanya, namun semenjak kakak tertabrak mobil ketika akan membeli kanvas, ayah menjadi berubah 180 derajat, ayah sangat fobia dengan nama seni apalagi "lukisan", meski begitu ayah tetap ramah dan selalu memberi kejutan, aku merindukannya.. tak terasa, kenangan nostalgia itu menemaniku membelah derasnya hujan, setelah ku seka air martaku, aku rapatkan mantelku..
namun sesampainya disana, aku tidak melihat banyak orang seperti tahun lalu mungkiin karena hujan, hanya ada beberapa orang yang sedang memoto lukisan-lukisan dan pasdangan kekasih yang sedang bercanda sambil memandangi lukisan-lukisan abstrak. juga ada beberapa patung dab lukisan tiga dimensi yang menarik perhatian, ada lukisan tikus sedang menggigit uang, yg mencerminkan korupsi dijual dengan harga enam juta, ada juga bunga dengan bentuk bima sakti dengan mahar sepuluh juta waw menarik, ada juga krikatur pendahulu negri ini hahaha, dann..haa aku menemukan lukisan dengan taksiran tiga puluh juta, aku heran dengan lukisan ini, aku tidak menemukan apa-apa, lukisan ini hanya terdiri dari pigura dan kanvas yang putih, polos, ya kosong, aku heran "kenapa lukisan ini harganya sangat mahal ya aneh?"
"karena dengan kekosongan semua orang dapat memulai segala sesuatu" jawaban dari pemuda bermata teduh itu mengagetkanku..dan aku tak faham.
"kau pun akan sendiri nanti" sambil terenyum dia berbalik seolah telah puas karena telah membaca pikiranku..
" ko ko ko bisa baca pikiranku sih..?" itu satu pertanyaan dari seribu pertanyaan dalam otakku tentang orang aneh ini
"karena pandanganmu pada kanvas itu melukiskan rasa cinta dan kerinduan" jawabnya lembut
"siapa sihh kamu ini seenaknya baca pikiran orang aja?"
"hahaha pencinta seni sama sepertimu, aku pulang duluan yaa"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar