3 Desember 2015

mkalah Pola Dakwah Dalam Sosial Kemasyrakatan



Dakwah sebagai sebuah kegiatan yang sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam, dengan segenap dimensi sosial yang mendasarinya, tentu juga membuat dakwah sebagai sebuah aksi dengan pola beragam dalam pelaksanaannya. Dalam kajian sosiologi, adalah dua teori yakni teori Fungsionalisme Struktural dan teori Konflik yang biasanya digunakan sebagai media untuk mencoba menggali dan mengetahui tentang bagaimana pola-pola Dakwah yang di lakukan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan mereka yang berlandaskan ajaran keagamaan.
Namun kali ini kami hanya akan memakai teori Konflik sebagai sebuah paradigma yang akan menggali keberagaman pola dakwah di masyarakat. Meski begitu, sebelumnya akan kami sampaikan mengenai sekilas tentang kedua teori tersebut.
Teori Fungsionalisme Struktural. Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik serta perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah: fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest, dan keseimbangan (equilibrium). Artinya Teori ini lebih memandang positif bahwa struktur masyarakat yang ada itu berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dan adanya perbedaan justru dianggap sebagai hal yang memang diperlukan untuk stabilitas dinamika sosial.
Jika menurut Teori Fungsionalisme Struktural masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan, maka menurut Teori Konflik malah sebaliknya. Teori Konflik ini cenderung mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat dalam masyarakat di samping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu dipandangnya dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan. Maka, teori ini kami anggap paling sesuai untuk menggali beberapa pola dakwah yang ada dalam masyarakat Islam itu sendiri.

Pola-Pola Dakwah Dalam Masyarakat
Islam bahkan agama samawi yang lain (kecuali Yahudi) memiliki kecenderungan berkarakter ekspansif, tentu mencoba mencari pengikut sebanyak-banyaknya melalui doktrin dan berbagai klaim kebenaran. Klaim-klaim kebenaran yang disampaikan secara profetik yang kemudian di komunikasikan lewat bahasa sehari-hari, menurut Ma’arif Jamu’in (1999), inilah yang menjadi salah satu sumber terjadinya konflik antar agama maupun dalam agama yang sama. Hingga, dari sinilah nantinya pola-pola dakwah dari masing-masing kelompok-kelompok dalam masyarakat Islam bisa terbentuk.
Pada dasarnya sikap umat Islam dalam memandang pelbagai persoalan kehidupan dapat ditelusuri dari pemikiran teologis yang berkembang melalui proses sosialisasi dan internalisasi masyarakat. Disini tiga jenis pemikiran teologis masyarakat Islam yang tentunya berpengaruh besar terhadap pola dakwah yang dijalankan untuk proyeksi terhadap terealisasinya sebuah kebenaran dan kesejahteraan masyarakat Islam.

  1. Tradisionalis.
Pemikiran teologis yang melihat segala sesuatu keterbelakangan umat lebih dilihat semata rencana Tuhan dan oleh karena itu tidak dilihat sebagai masalah utama. Akar pemikiran ini lebih pada konsep takdir yang telah disuratkan Allah jauh sebelum Tuhan menciptakan alam ini. Akar teologi seperti ini sering dikenal dengan golongan ahlusunnah (sunni), yakni golongan yang bersumber dari pemikiaran Abu Hasan al-Asy’ari. Dan di Indonesia, golongan ini merupakan mayoritas yang ada di kalangan masyarakat muslim.
Pola dakwah dari masyarakat golongan ini lebih pada proses penyampaian pesan-pesan Islam yang cenderung pada semangat sabar yang terkadang disalah artikan. Para da’i dalam menyampaikan pesan cenderung mengajak masyarakat untuk lebih mengutamakan melihat realitas keterpurukan mereka sebagai sebuah janji Tuhan di mana janji Tuhan akan manusia yang bersabar adalah kehidupan yang baik kelak. Inilah yang menyebabkan golongan modernis menganggap bahwa golongan tradisionalis lebih cenderung pasrah kepada keadaan, termasuk dalam hal perkembangan di masyarakat.
Namun begitu, sebagian dari kelompok tradisionalis ada pula yang mulai berupaya melakukan reinterpretasi reaktualitas nilai-nilai yang dilembagakan dalam pesantren. Mereka umumnya bergerak pada tataran “wacana transformatif” dan diikuti oleh aksi-aksi yang memberdayakan. Wacana transformatif yang didengungkan dapat dilihat dengan seringnya mereka mengutip kaidah fiqhiah “pelestarian nilai lama yang masih relevan dan pencarian nilai baru yang lebih baik” sebagai semangat melepaskan diri dari perangkap-perangkap keterkungkungan.

  1. Modernis.
Cara berfikir yang melihat masalah keterbelakangan umat Islam sebagai akibat dari “ada yang salah” dalam teologi umat Islam yang dianut umat Islam saat ini yang cenderung fatalistik. Artinya, menurut mereka perlu ada penafsiran baru terhadap keseluruhan konsep keagamaan secara rasional. Pemikiran semacam ini berakar pada pemikir seperti Muhammad Abduh yang mendorong perlunya kembali akidah Islam yang benar, yang selanjutnya lebih sering disebut dengan gerakan pembaharu.
Pola dakwah yang mereka lakukan adalah denga cara mempersiapkan umat muslim baik secara teologis maupun teknis agar bisa berpartisipasi dalam developmentalisme. Bagi mereka, upaya pembaharuan lebih dimaksudkan sebagai jalan untuk “mengubah sikap mental dan pandangan teologi” menjadi lebih rasional dan sesuai dengan  modernisme.

  1. Fundamentalis.
Pemikiran ini melihat ideologi dan agama lain sebagai penyebab kemunduran Islam, yang berakibat kemunduran umat Islam, yang berakibat dalam umat Islam sendiri untuk lebih menjadikan referensi isme-isme dan agama lain ketimbang pada Al-Qur’an. Maka ada kecenderungan mereka menganggap beberapa isme dan agama lain sebagai musuh bagi Islam, yakni seperti sosialisme, kapitalisme, zionisme, termasuk juga kekristenan. Mereka menganggap pesatnya pendidikan, ekonomi dan media informasi pemeluk dan ideologi lain menjadi ancaman bagi mereka.
Maka pola dakwah yang mereka lakukan adalah menekankan kembali kepada al-Qur’an secara konsisten dan konsekuen melalui sel-sel kelompok kecil (usrah-usrah),  sebuah proses pembentukan ideologi dan masyarakat berdasarkan al-Qur’an, serta membendung perkembangan ideologi dan agama lain di luar Islam. Hal lain yang coba diterapkan oleh mereka adalah mengupayakan persatuan dan kesatuan umat Islam dalam suatu kepemimpinan tunggal (khalifah).



Skema Pemikiran Umat Islam dan Pola-Pola Dakwahnya
Tradisionalis
Modernis
Fundamentalis
Sebab Masalah
Takdir ujian dari Tuhan Teologi – Fatalistik Meninggalkan al-Qur’an
Tujuan
Tingkatkan ibadah dan do’a Pembaruan teologi, pendidikan, mengubah nilai, menjadi lebih rasionalis Kembali kepada al-Qur’an dan tegakkan syari’ah dan perstukan umat dalam satu kepemimpinan (khalifah)
Program
Pengajian, sedekah, amal jariah Sekolah dan Pelatihan-Pelatihan   Usrah
Referensi: A. Halim dkk, Dakwah Pengembangan Masyarakat, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2009.

1 komentar:

  1. Find your favourite casino slot machines and play the classics!
    These games are perfect 영주 출장마사지 for both novice and experienced players. At the moment, 창원 출장마사지 you cannot bet on slots because you have already made the  강원도 출장안마 Rating: 세종특별자치 출장마사지 3.7 · ‎3,635 votes 경기도 출장마사지

    BalasHapus