
Dakwah sebagai sebuah kegiatan yang sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam, dengan segenap dimensi sosial yang mendasarinya, tentu juga membuat dakwah sebagai sebuah aksi dengan pola beragam dalam pelaksanaannya. Dalam kajian sosiologi, adalah dua teori yakni teori Fungsionalisme Struktural dan teori Konflik yang biasanya digunakan sebagai media untuk mencoba menggali dan mengetahui tentang bagaimana pola-pola Dakwah yang di lakukan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan mereka yang berlandaskan ajaran keagamaan.
Namun kali ini kami hanya akan memakai teori Konflik sebagai sebuah paradigma yang akan menggali keberagaman pola dakwah di masyarakat. Meski begitu, sebelumnya akan kami sampaikan mengenai sekilas tentang kedua teori tersebut.
Teori Fungsionalisme Struktural. Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik serta perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah: fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest, dan keseimbangan (equilibrium). Artinya Teori ini lebih memandang positif bahwa struktur masyarakat yang ada itu berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dan adanya perbedaan justru dianggap sebagai hal yang memang diperlukan untuk stabilitas dinamika sosial.
Jika menurut Teori Fungsionalisme Struktural masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan, maka menurut Teori Konflik malah sebaliknya. Teori Konflik ini cenderung mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat dalam masyarakat di samping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu dipandangnya dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan. Maka, teori ini kami anggap paling sesuai untuk menggali beberapa pola dakwah yang ada dalam masyarakat Islam itu sendiri.
Pola-Pola Dakwah Dalam Masyarakat
Islam bahkan agama samawi yang lain (kecuali Yahudi) memiliki kecenderungan berkarakter ekspansif, tentu mencoba mencari pengikut sebanyak-banyaknya melalui doktrin dan berbagai klaim kebenaran. Klaim-klaim kebenaran yang disampaikan secara profetik yang kemudian di komunikasikan lewat bahasa sehari-hari, menurut Ma’arif Jamu’in (1999), inilah yang menjadi salah satu sumber terjadinya konflik antar agama maupun dalam agama yang sama. Hingga, dari sinilah nantinya pola-pola dakwah dari masing-masing kelompok-kelompok dalam masyarakat Islam bisa terbentuk.
Pada dasarnya sikap umat Islam dalam memandang pelbagai persoalan kehidupan dapat ditelusuri dari pemikiran teologis yang berkembang melalui proses sosialisasi dan internalisasi masyarakat. Disini tiga jenis pemikiran teologis masyarakat Islam yang tentunya berpengaruh besar terhadap pola dakwah yang dijalankan untuk proyeksi terhadap terealisasinya sebuah kebenaran dan kesejahteraan masyarakat Islam.
- Tradisionalis.
Pola dakwah dari masyarakat golongan ini lebih pada proses penyampaian pesan-pesan Islam yang cenderung pada semangat sabar yang terkadang disalah artikan. Para da’i dalam menyampaikan pesan cenderung mengajak masyarakat untuk lebih mengutamakan melihat realitas keterpurukan mereka sebagai sebuah janji Tuhan di mana janji Tuhan akan manusia yang bersabar adalah kehidupan yang baik kelak. Inilah yang menyebabkan golongan modernis menganggap bahwa golongan tradisionalis lebih cenderung pasrah kepada keadaan, termasuk dalam hal perkembangan di masyarakat.
Namun begitu, sebagian dari kelompok tradisionalis ada pula yang mulai berupaya melakukan reinterpretasi reaktualitas nilai-nilai yang dilembagakan dalam pesantren. Mereka umumnya bergerak pada tataran “wacana transformatif” dan diikuti oleh aksi-aksi yang memberdayakan. Wacana transformatif yang didengungkan dapat dilihat dengan seringnya mereka mengutip kaidah fiqhiah “pelestarian nilai lama yang masih relevan dan pencarian nilai baru yang lebih baik” sebagai semangat melepaskan diri dari perangkap-perangkap keterkungkungan.
- Modernis.
Pola dakwah yang mereka lakukan adalah denga cara mempersiapkan umat muslim baik secara teologis maupun teknis agar bisa berpartisipasi dalam developmentalisme. Bagi mereka, upaya pembaharuan lebih dimaksudkan sebagai jalan untuk “mengubah sikap mental dan pandangan teologi” menjadi lebih rasional dan sesuai dengan modernisme.
- Fundamentalis.
Maka pola dakwah yang mereka lakukan adalah menekankan kembali kepada al-Qur’an secara konsisten dan konsekuen melalui sel-sel kelompok kecil (usrah-usrah), sebuah proses pembentukan ideologi dan masyarakat berdasarkan al-Qur’an, serta membendung perkembangan ideologi dan agama lain di luar Islam. Hal lain yang coba diterapkan oleh mereka adalah mengupayakan persatuan dan kesatuan umat Islam dalam suatu kepemimpinan tunggal (khalifah).
Skema Pemikiran Umat Islam dan Pola-Pola Dakwahnya
|
|
Tradisionalis
|
Modernis
|
Fundamentalis
|
|
Sebab Masalah
|
Takdir ujian dari Tuhan | Teologi – Fatalistik | Meninggalkan al-Qur’an |
|
Tujuan
|
Tingkatkan ibadah dan do’a | Pembaruan teologi, pendidikan, mengubah nilai, menjadi lebih rasionalis | Kembali kepada al-Qur’an dan tegakkan syari’ah dan perstukan umat dalam satu kepemimpinan (khalifah) |
|
Program
|
Pengajian, sedekah, amal jariah | Sekolah dan Pelatihan-Pelatihan |
Usrah |
Find your favourite casino slot machines and play the classics!
BalasHapusThese games are perfect 영주 출장마사지 for both novice and experienced players. At the moment, 창원 출장마사지 you cannot bet on slots because you have already made the 강원도 출장안마 Rating: 세종특별자치 출장마사지 3.7 · 3,635 votes 경기도 출장마사지